Sabtu, 17 Oktober 2015

Allah Maha Setunggal


Allah Maha Setunggal. Estu-estu setunggal. Boten dipun perang-perang. Boten saged dipun dum-dum. Asmanipun, Dzatinipun, Karyanipun. Allah Maha Setunggal, boten wonten tandhinginipun. Boten wonten kancanipun. Boten wonten ingkang nyameni. Boten kagungan putra lan boten dipun putraaken. 
        


Allah piyambak, Allah Ingkang nguwahosi bumi, langit, surya, lintang, rembulan, wosipun Allah piyambak, setunggal, ingkang nguwahosi sedaya samukawis.

Allah jumeneg pribadi. Boten dipun jumenangaken. Allah boten betah dhumateng sedaya ingkang maujud utawi ingkang ketingal lan boten ketingal. Dipun sembah boten dipun sembah, menggahing Allah sami kemawon.
Allah Maha Setunggal tanpa wiwitan, tanpa pungkasan. Allah Maha Setunggal boten margi dipun pilih, utawi margi degaken. Estu-estu Allah Maha Setunggal kuwahossipun, sugihipun pinteripun lan sampurnanipun.


#Artikel ini ditulis kembali dari:
#Soal Jawab Entheng-Enthengan oleh Pak AR-Yogya
E-Partner Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Kisah Abbad bin Bisyr Rodhiyallohu 'Anhu (RA)


Ahli Ibadah yang Gagah Berani



Abbad bin Bisyr, adalah seorang sahabat yang tidak asing lagi dalam sejarah dakwah Islamiyah. Ia tidak hanya termasuk diantara para abid ( ahli ibadah ), bertaqwa, dan menegakkan shalat setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur’an, tapi juga tergolong kalangan para pahlawan, yang gagah berani, dalam menegakkan kalimah Allah. Tidak hanya itu, ia juga seorang penguasa yang cakap, berbobot, dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum muslimin.


Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, Abbad bin Bisyr Al-Asyhaly masih muda. Kulitnya yang bagus dan wajahnya yang rupawan memantulkan cahaya kesucian. Dalam kegiatan sehari-hari dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap seperti orang-orang yang sudah dewasa, kendati usianya belum mencapai 25 tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang da’i dari mekkah, yaitu Mush’ab bin Ummair. Dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh. Abbad mulai belajar membaca Al-Qur’an kepada Mush’ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Begitu senangnya membaca kalamullah, sehingga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulangnya siang dan malam, bahkan dijadikannya suatu kewajiban. Karena itu dia terkenal dikalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat tahajud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan masjid. Terdengar oleh beliau suara Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya.
“Ya Aisyah, suara Abbad bin Bisyrkah itu ?” tanya Rasulullah.
“Betul, ya rasulullah !” jawab Aisyah.
Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, ampunilah dia !”

Abbad bin Bisyr turut berperang bersama-sama Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang beliau pimpin. Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa al-Qur’an. Ketika Rasulullah kembali dari peperangan dzatur Riqa’, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan muslim dilereng sebuah bukit.

Seorang prajurit muslim menawan seorang wanita musyrik dan ditinggal pergi oleh suaminya. Ketika suaminya datang kembali, istrinya sudah tiada. Dia bersumpah dengan latta dan ‘Uzza akan menyusul Rasulullah dan pasukan kaum muslimin, ia tidak akan kembali kecuali setelah menumpahkan darah mereka. Setibanya di tempat perhentian di atas bukit, Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapa yang bertugas jaga malam ini ?” Abbad bin Bisyr dan ammar bin Yasir berdiri,”Kami, ya Rasulullah!” kata keduanya serentak. Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum muhajirin baru tiba di Madinah.

Ketika keduanya keluar ke mulut jalan ( pos penjagaan ), Abbad bertanya kepada Ammar, ”Siapa diantara kita yang berjaga lebih dulu ?” “Saya yang tidur lebih dulu!” jawab Amar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan.

Suasana malam itu tenang, sunyi dan nyaman. Bintang gemintang, pohon-pohon dan batu-batuan, seakan sedang bertasbih memuji kebesaran Allah. Hati Abbad tergiur hendak turut melakukan ibadah. Dalam sekejap, ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dalam shalat. Nikmat shalat dan tilawah ( bacaan Al-Qur’an ) berpadu menjadi satu dalam jiwanya.

Dalam shalat di bacanya surat Al-Kahfi dengan suara memilukan, merdu bagi siapapun yang mendengarnya.Ketika dia sedang bertasbih dalam cahaya ilahi yang meningkat tinggi, tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya,seorang laki-laki datang memacu langkah tergesa-gesa. Laki-laki itu melihat dari kejauhan seorang hamba Allah sedang beribadah di mulut jalan,dia yakin rasuullah dan para sahabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Orang itu segera menyiapkan panah dan memanah Abbad tepat mengenainya. Abbad mencabut panah yang bersarang ditubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam dalam shalat. Orang itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu. Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama. Kemudian orang itu memanah lagi. Abbad mencabutnya lagi seperti dua buah panah yang terdahulu.

Giliran juga bagi Amar bin Yasir pun tiba. Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang tidur itu,lalu membangunkannya seraya berkata, ”Bangun! Aku terluka parah dan lemas!” Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri.Amar menoleh kepada Abbad. Dilihatnya darah mengucur dari tiga buah lobang luka ditubuh Abbad. ”Subhanallah! Mengapa kamu tidak membangunkan ketika panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.

“Aku sedang membaca Al-Qur’an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rasulullah, menjaga mulut jalan tempat kaum muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dalam shalat,” jawab Abbad.

Ketika perang dalam rangka memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu BakarRadiyallahu Anhu, khalifah menyiapakan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah Al-Kadzdzab. Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam ketentaraan tersebut.

Setelah di perhatikannya celah-celah pertempuran, Abbad berpendapat kaum muslimin tidak mungkin menang karena kaum muhajirin dan kaum Anshar saling menyerahkan urusan satu sama lain.Bahkan mereka saling membenci dan saling mencela. Abbad yakin kaum muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan kondisi pasukan yang tidak kompak itu. Kecuali bial kaum Anshar dan Muhajirin membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh.

Sebelum pertempuran yang menentukan itu dimulai, Abbad bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah dia melihat langit terbuka. Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri kedalam dan mengunci pintu.Ketika subuh tiba,Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu Said Al-Khudri. ”Demi Allah,itu seperti benar-benar kejadian,hai Abu Said!” ujarnya.

Ketika perang mulai berlangsung, Abbad naik ke suatu bukit kecil seraya berteriak,”hai kaum Anshar,berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu ! Pecahkan sarung pedang kalian ! Jangan tinggalkan Islam terhina atau tenggelam, niscaya bencana akan menimpa kalian!” Abbad mengulang-ulang seruannya, sehingga sekitar 400 prajurit berkumpul disekelilingnya. Di antar mereka terdapat perwira seperti Tsabit bin Qais, Al-Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang RasulullahSAW.

Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah Al-Kadzab terdesak mundur dan melarikan diri ke Kebun Maut.

Di sana, dekat pagar tembok Kebun Maut, Abbad gugur sebagai syahid. Tubuhnya penuh dengan luka bekas pukulan pedang, tusukan lembing, panah yang menancap. Para sahabat hampir tak mengenalinya, kecuali setelah melihat beberapa tanda dibagian tubuhnya yang lain. Semoga Allah memberikan pahala kepadanya dengan surga firdaus seperti para syuhada` lainnya.

Amin.



#Artikel ini ditulis kembali dari Buku 100 Sahabat Nabi
#Kisah Sahabat Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam (SAW), Abbad bin Bisyr Rodhiyallohu 'Anhu (RA)
E-Partner Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Angkuhnya Manusia, but Think ''We Are Small''



  • Apa yang harus kita banggakan dalam hidup ini, jika semua yang kita lakoni hanya sementara …
  • Kekayaan yang melimpah, jabatan dan kekuasaan yang tinggi semua akan berakhir…
  • Wajah yang rupawan, fisik yang kuat semua akan sirna…
  • Pernahkah kita melihat dan mendengar manusia yang bisa menghindar dari kematian?
  • Rasanya tak pernah ada, karena setiap mahluk hidup akan mati atas kehendak-Nya termasuk Manusia.
  • Tapi mengapa Kita begitu sombong, congkak dan pongah berdiri diatas bumi-Nya….
  • Kita selalu meminta kebaikan tapi tak pernah mensyukuri atas pemberian-Nya…
  • Yang kita minta dalam setiap do’a…. rizki yang berlimpah dan kecukupan, kehidupan yang mulia,istri yang shalehah, anak-anak yang sholeh…
  • Tidak mau sedikitpun bala menimpa kita.
  • Jika Engkau turunkan bencana, kami anggap musibah dan kami menolaknya apapun yang menyulitkan kami dalam kehidupanini.
  • Ya Allah, betapa besar nikmat dankarunia yang telah Engkau berikan…
  • dan betapa kurangnya hamba bersyukur…
  • Sedangkan untuk merangkai katadalam do’a saja hamba tak pernah bisa, apalagi menjalankan kewajibanmu secara kaffah…
  • Ya Allah ya Rab, ampunilah hambamu yang telah larut dan hanyut dalam lezatnya nikmat dunia yang hanya sementara ini….
  • Sehingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi….
  • Betapa bodoh dan meruginya hamba ini….

E-Partner Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Jumat, 16 Oktober 2015

Nabi Muhammad SAW di dalam Kitab Al-Qur'an, Injil, dan Taurot


Dengan Nama Alloh Sang Maha Pengasih Sang Maha Penyayang
Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (SAW), yang telah merubah masyarakat Jahiliyyah menjadi beradab, masyarakat musyrik menjadi Tauhid, dari gelap menjadi terang. 

Dalam Al-Qur’an surat 6 ayat 1 :

"Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka"

surat 14 ayat 1 :
"Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji."

 Nabi Muhammad di dalam Al-Qur'an 
1.      Surat 2 ayat 146 dan surat 6 ayat 20
Orang-orang Ahli Kitab mengenal Nabi Muhammad, tetapi mereka menyembunyikan kebenaran itu.
2.      Surat 7 ayat 157
Nabi Muhammad sudah termaktub/tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada sisi mereka.
3.      Surat 48 ayat 29
Tanda-tanda/ sifat-sifat Nabi Muhammad ada tersebut di dalam Taurat maupun Injil.
4.      Surat 61 ayat 6
Nabi Isa (Yesus) sudah memberitahu kepada kaumnya (Bani Israel) mengenai akan datangnya Nabi Muhammad.
5.      Surat 3 ayat 70 dan 71
Orang Ahli Kitab ditegur oleh Alloh, karena mereka menyembunyikan/mengingkari Nabi Muhammad.

 Nabi Muhammad SAW di dalam Taurat (Perjanjian Lama) 

1.      Kitab Ulangan 18:18
Nabi Muhammad itu berasal dari saudaranya Bani Israel, yaitu keturunan Bani Ismael. Nabi Muhammad itu tanda-tandanya seperti Nabi Musa.
2.      Kitab Ulangan 34:10
Dari kalangan Bani Israel tidak bangkit Nabi yang seperti Nabi Musa.
3.      Kitab Ulangan 18:19
Ketika Nabi Muhammad sudah datang, maka siapa yang INGKAR/TIDAK MAU mengikutinya PASTI DIHUKUM.

 NABI ISA (Yesus) tidak seperti NABI MUSA (Lihat point 1, Ulangan 18:18) 

Bukti (1)
Musa ‘Alaihis Salam (AS) adalah Nabi/Rasul sedangkan Yesus adalah Tuhan
Bukti (2)
Musa mati tidak karena disalib sedangkan Yesus mati karena disalib
Bukti (3)
Musa mati, dikubur, dan tidak bangkit pada hari ke tiga (?) sedangkan Yesus mati, kemudian dikubur, dan bangkit pada hari ke tiga
Bukti (4)
Musa mati tidak untuk menebus dosa ummatnya sedangkan Yesus menebus dosa (?)

Nabi Muhammad itulah Nabi yang sama dengan Nabi Musa (Ulangan 18:18) 

(1) Lahir secara wajar [Lihat, Keluaran 6:19; Matius 1:18]
(2) Gembala (Yesus tukang kayu) [Lihat, Keluaran 3:1; Markus 6:3]
(3) Kawin [Lihat, Keluaran 2:21+22] sedangkan Yesus (?)
(4) Nabi Muhammad SAW membawa Syariat (Al-Qur’an) sedangkan Yesus hanya melanjutkan syariat Nabi Musa [Matius 5:17]
(6) Matinya wajar sedangkan Yesus (?) [Baca Al-Qur’an surat 4:157]
Dan Masih banyak lagi kesamaan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa AS.

Nabi Muhammad SAW Tertulis di dalam INJIL (Perjanjian Baru)

Lihat
1.      Injil Johanes 14:15+16
2.      Johanes 15:26
3.      Johanes 16:7+8 dan 13
4.      Injil Johanes 21:42+43
Dan masih banyak lagi. Tapi …. Orang-orang NASRANI/KRISTEN mendustakan ayat-ayat tersebut.

Baca buku-buku ini

1.      Isa dalam Al-Qur’an, Muhammad dalam Bible. Oleh: Prof. Dr. KH. Hasbulloah Bakry, SH.

2.      Muhammad SAW. Dalam Torat, Injil dan Al-Qur’an. Oleh: Ibrahim Khalil Ahmad (Bekas Pendeta di Cairo)
E-Partner Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Kamis, 15 Oktober 2015

Profi TPA Masjidillah


Setiap orang tua mendambakan anak yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Seorang anak diharapkan menguasai teknologi dan berbagai keahlian sejak usia dini agar kelak dapat mensejahterakan hidup orang tua. Harapan tersebut adalah sangat mulia namun hidup sesudah mati hendaklah jangan dilupakan. Anak yang sholih dapat menyelamatkan dan mensejahterakan hidup orang tua di dunia dan akhirat. Oleh karena hal itu, setiap orang tua hendaklah membekali si anak dengan ilmu Agama Islam agar tiada penyesalan di hari penghabisan.
Deskripsi

Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Masjidillah sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran sejak tujuh tahun yang lalu dan mendapatkan setifikat resmi dari Departemen Agama RI dengan Nomor Induk 1298/V/PN.KS/2007. Saat ini, TPA Masjidillah melakukan pembinaan pada hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 15.30 - 17.00 WIB.

 
Visi

Masjidillah memiliki cita-cita mulia untuk mewujudkan lingkungan sekitar yang berimancerdas, dan ber-akhlaq mulia. Oleh karena itu, Masjidillah senantiasa berupaya untuk menyediakan fasilitas bagi Bapak dan Ibu yang hendak membekali putra-putrinya dengan ilmu Agama Islam.
 

Standar Kompetensi Lulusan
  • Santri mengedepankan kebersihan dan kesucian perilaku.
  • Santri mampu mengaplikasikan aturan dan prinsip dasar ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari.
---------------- Tanpa dipungut biaya ----------------

E-Partner Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.